Minggu, 02 Desember 2007
Konsep Diri
Konsep Diri
Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain.
Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
Proses Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dsb - dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif.
Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa âbodohâ, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai.
Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Berbagai faktor dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang, seperti:
Pola asuh orangtua
Pola asuh orang tua seperti sudah diuraikan di atas turut menjadi faktor signifikan dalam mempengaruhi konsep diri yang terbentuk. Sikap positif orang tua yang terbaca oleh anak, akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri. Sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada anak, dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dikasihi, untuk disayangi dan dihargai; dan semua itu akibat kekurangan yang ada padanya sehingga orang tua tidak sayang.
Kegagalan
Kegagalan yang terus menerus dialami seringkali menimbulkan pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan membuat orang merasa dirinya tidak berguna.
Depresi
Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif. Misalnya, tidak diundang ke sebuah pesta, maka berpikir bahwa karena saya âmiskinâ maka saya tidak pantas diundang. Orang yang depresi sulit melihat apakah dirinya mampu survive menjalani kehidupan selanjutnya. Orang yang depresi akan menjadi super sensitif dan cenderung mudah tersinggung atau âtermakanâ ucapan orang.
Kritik internal
Terkadang, mengkritik diri sendiri memang dibutuhkan untuk menyadarkan seseorang akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritik terhadap diri sendiri sering berfungsi menjadi regulator atau rambu-rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan kita diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik.
Merubah Konsep Diri
Seringkali diri kita sendirilah yang menyebabkan persoalan bertambah rumit dengan berpikir yang tidak-tidak terhadap suatu keadaan atau terhadap diri kita sendiri. Namun, dengan sifatnya yang dinamis, konsep diri dapat mengalami perubahan ke arah yang lebih positif. Langkah-langkah yang perlu diambil untuk memiliki konsep diri yang positif:
Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri
Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu sekaligus. You canât be all things to all people, you canât do all things at once, you just do the best you could in every way....
Hargailah diri sendiri
Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri. Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif? Jika kita tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita ?
Jangan memusuhi diri sendiri
Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negatif konsep dirinya.
Berpikir positif dan rasional
We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world (The Buddha). Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.
Sabtu, 01 Desember 2007
Abusive Relationships
Selama usia pernikahan saya yang sudah 10 tahun ini, saya tidak pernah sekali pun merasakan kebahagiaan meski sudah dikaruniai seorang anak. Memang, sejak awal bukan keinginan saya untuk menikah dengan suami saya yang sekarang karena “disodorkan” orangtua tanpa bisa memilih atau pun menolak. Dan, selama ini saya sekedar menjalankan peran sebagai istri dan ibu dari anak saya. Namun batin saya tersiksa karena sikapnya tidak hanya kasar dimulut, tetapi juga kasar di perilaku….. Coba saja, selalu ada yang salah di matanya….dan kata-katanya terdengar menyakitkan….tidak habis-habisnya celaan, omelan, gerutuan, bahkan caci-maki yang tidak pernah absent mendarat di telinga saya. Memang, dia tidak pernah memukul saya dan anak saya…tapi kalau sudah marah, lantas membanting barang-barang, memukul meja-banting pintu dan melakukan tindakan lain yang bikin hati saya dan anak ketakutan setengah mati. Pernah dia mengancam mau membunuh saya hanya karena saya terlambat pulang ke rumah sehabis ke rumah teman. Saya dan anak sangat ketakutan kalau dia ada di rumah….. Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan karena saya merasa tidak berdaya…secara financial saya sangat bergantung padanya karena terus terang saja…suami saya adalah satu-satunya penopang rumah tangga kami selama ini….karena dia lah maka anak saya bisa bersekolah di sekolah yang bermutu, dan kehidupan materi kami terbilang sangat baik….. Tapi toh ternyata semua itu tidak membuat saya bahagia…..apa gunanya harta benda….jika saya selamanya hidup dalam ketakutan…… Apa yang dialami oleh si ibu dan anaknya dalam kasus diatas merupakan gambaran dari suatu istilah yang disebut “Abusive Relationships”. Abusive Relationships yang dialami oleh seseorang dapat berupa hilangnya kehangatan hubungan emosional, kecemburuan, pelecehan seksual sampai pada penyiksaan secara verbal terhadap pasangan. Dampak dari persoalan penyiksaan ini tidak hanya dialami oleh pasangan, tetapi terutama oleh anak-anak, apalagi jika mereka selalu disuguhi “tontonan menyeramkan dan menegangkan” setiap melihat orangtuanya bertikai. Dampak tersebut akan membekas dan bisa menjadi trauma yang berkepanjangan dan akhirnya mempengaruhi hidup, karir dan perkawinan mereka di masa mendatang. Persoalan ini pula lah yang sebenarnya menstimulasi terjadinya perselingkuhan dari pihak yang satu karena dirinya merasa membutuhkan seseorang yang benar-benar memberikan cinta kasih dan perhatian.
Seputar Abusive Relationships
Abusive Relationships adalah bentuk hubungan yang sering diwarnai kecemburuan, tidak ada kehangatan emosional, kurangnya kualitas hubungan yang erat, pelecehan seksual, ketidaksetiaan, penyiksaan secara verbal, ancaman, dusta, pengingkaran janji, serta permainan kekuasaan. Bentuk penyiksaan ini sering tidak disadari baik oleh pelaku maupun korban, menurut mereka hal itu sudah biasa terjadi, normal atau karena “sudah wataknya” atau “sudah adatnya” ataupun berdalih latar belakang suku/ras tertentu. Seseorang yang mengalami penyiksaan emosional (yang dilakukan secara verbal) yang berlangsung lama dan intensif akan menimbulkan persoalan kritis menyangkut self-esteem, rasa percaya diri dan sense of identity-nya.
Asal Usul Perilaku Abusive
Pada kasus penyiksaan terhadap pasangan, sudah pasti hal itu dilandasi oleh masalah psikologis yang cukup berat yang dialami oleh kedua pasangan. Peneliti aliran psikoanalis, berpendapat bahwa para pelaku (abuser) sebenarnya pernah menjadi korban di masa lalu, di mana mereka juga mengalami perlakuan sama atau lebih parah yang diterimanya dari orangtua atau siapapun yang berperan dalam hidup mereka saat itu. Demikian juga pihak korban, pada umumnya mereka juga mempunyai masa lalu yang traumatis sehingga melahirkan sikap ketergantungan yang kronis. Hal ini lah yang menjelaskan mengapa seseorang selalu mengalami masalah yang sama meski sudah berulang kali menikah dan cerai. Pelaku (abuser) dan korban seakan tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak bersikap seperti itu karena dilandasi oleh trauma masa lalu yang berkaitan dengan masalah emosional, fisik, ataupun seksual. Pelaku adalah orang yang hidupnya dipenuhi oleh rasa malu, rendah diri dan kekaburan identitas yang kronis. Oleh sebab itu, ia mencari pasangan yang sekiranya bisa diperlakukan dan memperlakukannya sedemikian rupa sehingga harga diri dan identitasnya meningkat.
Bagaimana Penanganannya?
Untuk menghentikan pola seperti ini dibutuhkan penanganan yang serius karena sikap abusive atau being abused itu sendiri sering disertai oleh ketergantungan terhadap sesuatu, entah itu seksual, drugs, hormat, ketenaran, kekuasaan, pengakuan, kasih sayang dan perhatian, pekerjaan, uang ataupun hal-hal lainnya. Jadi, yang bersangkutan harus diterapi secara khusus untuk membersihkan diri dari segala ketergantungan dan berusaha menerima diri apa adanya serta memulihkan – mengembangkan jati diri yang dimilikinya. Proses terapi yang dilakukan juga bermaksud untuk menyadarkan sang abuser atau pun korban akan asal muasal perilakunya itu tanpa mempermasalahkan keadaan atau pun orang lain. Dengan demikian, terapi bertujuan untuk sedikit demi sedikit menghilangkan akar pahit masa lalu yang terus menerus disimpan namun kemudian meracuni setiap hubungan yang terjalin. Terapi tersebut juga bertujuan untuk membuat subyeknya bisa merubah cara berpikir dan persepsinya terhadap orang ataupun situasi yang dijumpai, agar mereka tidak menjadi manipulatif (secara tidak sadar) karena ingin selalu diutamakan. Mereka perlu mengubah sikap yang selalu menuntut kasih sayang dan perhatian yang tidak pernah mencapai kepuasan, dengan sikap kebalikan, yaitu memberi cinta kasih dan perhatian secara dewasa. Untuk bisa mencapai ke arah sana diperlukan pemulihan diri terlebih dahulu untuk bisa merasa percaya pada diri sendiri, bahwa segala sesuatu, kebahagiaan maupun kesusahan, keberhasilan maupun kegagalan merupakan tanggung jawab diri sendiri, dan tidak tergantung pada orang lain. Namun yang paling penting adalah kesadaran bahwa dirinya ingin berubah dan ingin merubah pola interaksi yang selama ini membelenggu dan membatasi munculnya hubungan sejati yang dilandasi oleh rasa cinta dan kepercayaan. Kerjasama dan keperdulian kedua belah pihak terhadap jalannya proses terapi itu sendiri akan sangat mendukung keberhasilan program. Tidak atau sangat sulit merubah suatu hubungan jika hanya dilakukan oleh salah satu pihak, karena dalam setiap keberhasilan hubungan membutuhkan kejujuran, keterbukaan, dan kemauan keduabelah pihak untuk sama-sama menjalani dan menyelesaikan persoalan itu.Namun, jika ternyata pihak abuser (yang melakukan penyiksaan) itu tidak punya keinginan untuk berubah, maka cara yang bisa dilakukan pihak korban adalah menjauhkan darinya dan segera mencari pertolongan dan perlindungan yang menjamin keselamatan diri.
Mengapa Self Awareness
Menurut pemikiran saya Self Awareness ibarat cermin yang selalu memantulkan siapa diri kita, kita dapat mengetahui kondisi diri kita yang SESUNGGUHNYA.
Self Awareness membuat diri kita selalu bersemangat dan termotivasi untuk mengembangkan diri (syaratnya jika kita mau JUJUR dengan diri kita sendiri).
Awareness merupakan sebuah kunci untuk memasuki diri kita sendiri, menemukan kekayaan potensi yang telah TUHAN berikan. Karena saya percaya DIA menciptakan segala sesuatu SUNGGUH AMAT BAIK.
Self Awareness
Sepanjang pengalaman saya dalam berkarir di bidang psikologi.
Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya tentang orang-orang yang saya temui di ruang konseling maupun ketika saya mengadakan interview calon karyawan.
Hampir sebagian besar mereka :
1. Tidak menyadari atau tidak mengetahui kemampuan diri mereka
2. Lebih banyak berfokus pada kelemahan yang dimiliki (bahkan ada yang tidak tahu keduanya)
3. Jangan membicara Goal/Tujuan hidup mereka (jika) mereka tidak mempunyai gambaran sama sekali tentang siapa dirinya
Bisa kita bayangkan, bagaimana mereka mengatur diri sendiri ???
Tidak heran jika kita bertanya pada seorang siswa yang duduk di bangku SMA 'kenapa kamu memilih jurusan IPA/IPS?' - mereka tidak dapat memberikan jawaban yang spesifik.
Menurut saya, semua hal yang saya ungkapkan diatas berakar dari "Self Unawareness" - agak sulit saya menemukan ungkapan tersebut dalam bahasa Indonesia.
Pertanyaannya adalah mengapa hal itu sampai terjadi ?
Kembali menurut pendapat saya, karena pola asuh orangtua kita. Sebagian besar kita di didik dalam pola kepenurutan yang absolut. Maksudnya, ketika orangtua kita membuat suatu aturan bagi anggota keluarganya, tidak disertai sebuah alasan yang dapat diterima. Dengan kata lain pola asuh yang dibangun tidak membuka peluang sebuah agumentasi.
Akibatnya sejak kecil kita sudah 'dibuatkan' pola yang harus kita tempuh. (itu di rumah)
Hal tersebut diperparah dengan pola pendidikan kita (di negeri tercinta kita Indonesia) - yang juga sudah memberikan 'pola' yang seragam dan harus di tempuh oleh siswa-siswanya.
Contoh : Seorang siswa TK yang membuat gambar matahari dengan warna biru, maka segera sang guru menyalahkannya dan 'membetulkan' dengan memberitahu bahwa warna matahari itu kuning.
Pola Asuh di rumah dan Pendidikan di sekolah yang sedemikian rupa, jelas tidak mengembangkan Self Awareness pada diri anak.
Kembali pada contoh gambar yang dibuat siswa TK tersebut.
Sang guru tidak bertanya kenapa dia menggambar matahari seperti itu.
Dengan latar belakang pemikiran bahwa Self Awareness sangat diperlukan dalam hidup seseorang untuk menjalani kehidupan yang semakin sulit, maka saya memberanikan diri untuk membangun sebuah pola pelatihan yang dikombinasi dengan 'pendampingan' - konseling.
Core Pelatihan tersebut kami beri nama SMART LIFE, pesan dibalik dua kata itu adalah smart merupakan kombinasi pemikiran yang cerdik dan kebijaksanaan dalam bertindak, maka kehidupan yang dijalani akan lebih mudah.
"SMARTLIFE make LIVE simple"
Silakan anda kunjungi web kami, temukan service / layanan yang kami tawarkan, dan harapkan dapat menjawab kebutuhan, akan pengembangan sumber daya manusia.
Semoga pemikiran ini memberikan inspirasi.
