Selama usia pernikahan saya yang sudah 10 tahun ini, saya tidak pernah sekali pun merasakan kebahagiaan meski sudah dikaruniai seorang anak. Memang, sejak awal bukan keinginan saya untuk menikah dengan suami saya yang sekarang karena “disodorkan” orangtua tanpa bisa memilih atau pun menolak. Dan, selama ini saya sekedar menjalankan peran sebagai istri dan ibu dari anak saya. Namun batin saya tersiksa karena sikapnya tidak hanya kasar dimulut, tetapi juga kasar di perilaku….. Coba saja, selalu ada yang salah di matanya….dan kata-katanya terdengar menyakitkan….tidak habis-habisnya celaan, omelan, gerutuan, bahkan caci-maki yang tidak pernah absent mendarat di telinga saya. Memang, dia tidak pernah memukul saya dan anak saya…tapi kalau sudah marah, lantas membanting barang-barang, memukul meja-banting pintu dan melakukan tindakan lain yang bikin hati saya dan anak ketakutan setengah mati. Pernah dia mengancam mau membunuh saya hanya karena saya terlambat pulang ke rumah sehabis ke rumah teman. Saya dan anak sangat ketakutan kalau dia ada di rumah….. Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan karena saya merasa tidak berdaya…secara financial saya sangat bergantung padanya karena terus terang saja…suami saya adalah satu-satunya penopang rumah tangga kami selama ini….karena dia lah maka anak saya bisa bersekolah di sekolah yang bermutu, dan kehidupan materi kami terbilang sangat baik….. Tapi toh ternyata semua itu tidak membuat saya bahagia…..apa gunanya harta benda….jika saya selamanya hidup dalam ketakutan…… Apa yang dialami oleh si ibu dan anaknya dalam kasus diatas merupakan gambaran dari suatu istilah yang disebut “Abusive Relationships”. Abusive Relationships yang dialami oleh seseorang dapat berupa hilangnya kehangatan hubungan emosional, kecemburuan, pelecehan seksual sampai pada penyiksaan secara verbal terhadap pasangan. Dampak dari persoalan penyiksaan ini tidak hanya dialami oleh pasangan, tetapi terutama oleh anak-anak, apalagi jika mereka selalu disuguhi “tontonan menyeramkan dan menegangkan” setiap melihat orangtuanya bertikai. Dampak tersebut akan membekas dan bisa menjadi trauma yang berkepanjangan dan akhirnya mempengaruhi hidup, karir dan perkawinan mereka di masa mendatang. Persoalan ini pula lah yang sebenarnya menstimulasi terjadinya perselingkuhan dari pihak yang satu karena dirinya merasa membutuhkan seseorang yang benar-benar memberikan cinta kasih dan perhatian.
Seputar Abusive Relationships
Abusive Relationships adalah bentuk hubungan yang sering diwarnai kecemburuan, tidak ada kehangatan emosional, kurangnya kualitas hubungan yang erat, pelecehan seksual, ketidaksetiaan, penyiksaan secara verbal, ancaman, dusta, pengingkaran janji, serta permainan kekuasaan. Bentuk penyiksaan ini sering tidak disadari baik oleh pelaku maupun korban, menurut mereka hal itu sudah biasa terjadi, normal atau karena “sudah wataknya” atau “sudah adatnya” ataupun berdalih latar belakang suku/ras tertentu. Seseorang yang mengalami penyiksaan emosional (yang dilakukan secara verbal) yang berlangsung lama dan intensif akan menimbulkan persoalan kritis menyangkut self-esteem, rasa percaya diri dan sense of identity-nya.
Asal Usul Perilaku Abusive
Pada kasus penyiksaan terhadap pasangan, sudah pasti hal itu dilandasi oleh masalah psikologis yang cukup berat yang dialami oleh kedua pasangan. Peneliti aliran psikoanalis, berpendapat bahwa para pelaku (abuser) sebenarnya pernah menjadi korban di masa lalu, di mana mereka juga mengalami perlakuan sama atau lebih parah yang diterimanya dari orangtua atau siapapun yang berperan dalam hidup mereka saat itu. Demikian juga pihak korban, pada umumnya mereka juga mempunyai masa lalu yang traumatis sehingga melahirkan sikap ketergantungan yang kronis. Hal ini lah yang menjelaskan mengapa seseorang selalu mengalami masalah yang sama meski sudah berulang kali menikah dan cerai. Pelaku (abuser) dan korban seakan tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak bersikap seperti itu karena dilandasi oleh trauma masa lalu yang berkaitan dengan masalah emosional, fisik, ataupun seksual. Pelaku adalah orang yang hidupnya dipenuhi oleh rasa malu, rendah diri dan kekaburan identitas yang kronis. Oleh sebab itu, ia mencari pasangan yang sekiranya bisa diperlakukan dan memperlakukannya sedemikian rupa sehingga harga diri dan identitasnya meningkat.
Bagaimana Penanganannya?
Untuk menghentikan pola seperti ini dibutuhkan penanganan yang serius karena sikap abusive atau being abused itu sendiri sering disertai oleh ketergantungan terhadap sesuatu, entah itu seksual, drugs, hormat, ketenaran, kekuasaan, pengakuan, kasih sayang dan perhatian, pekerjaan, uang ataupun hal-hal lainnya. Jadi, yang bersangkutan harus diterapi secara khusus untuk membersihkan diri dari segala ketergantungan dan berusaha menerima diri apa adanya serta memulihkan – mengembangkan jati diri yang dimilikinya. Proses terapi yang dilakukan juga bermaksud untuk menyadarkan sang abuser atau pun korban akan asal muasal perilakunya itu tanpa mempermasalahkan keadaan atau pun orang lain. Dengan demikian, terapi bertujuan untuk sedikit demi sedikit menghilangkan akar pahit masa lalu yang terus menerus disimpan namun kemudian meracuni setiap hubungan yang terjalin. Terapi tersebut juga bertujuan untuk membuat subyeknya bisa merubah cara berpikir dan persepsinya terhadap orang ataupun situasi yang dijumpai, agar mereka tidak menjadi manipulatif (secara tidak sadar) karena ingin selalu diutamakan. Mereka perlu mengubah sikap yang selalu menuntut kasih sayang dan perhatian yang tidak pernah mencapai kepuasan, dengan sikap kebalikan, yaitu memberi cinta kasih dan perhatian secara dewasa. Untuk bisa mencapai ke arah sana diperlukan pemulihan diri terlebih dahulu untuk bisa merasa percaya pada diri sendiri, bahwa segala sesuatu, kebahagiaan maupun kesusahan, keberhasilan maupun kegagalan merupakan tanggung jawab diri sendiri, dan tidak tergantung pada orang lain. Namun yang paling penting adalah kesadaran bahwa dirinya ingin berubah dan ingin merubah pola interaksi yang selama ini membelenggu dan membatasi munculnya hubungan sejati yang dilandasi oleh rasa cinta dan kepercayaan. Kerjasama dan keperdulian kedua belah pihak terhadap jalannya proses terapi itu sendiri akan sangat mendukung keberhasilan program. Tidak atau sangat sulit merubah suatu hubungan jika hanya dilakukan oleh salah satu pihak, karena dalam setiap keberhasilan hubungan membutuhkan kejujuran, keterbukaan, dan kemauan keduabelah pihak untuk sama-sama menjalani dan menyelesaikan persoalan itu.Namun, jika ternyata pihak abuser (yang melakukan penyiksaan) itu tidak punya keinginan untuk berubah, maka cara yang bisa dilakukan pihak korban adalah menjauhkan darinya dan segera mencari pertolongan dan perlindungan yang menjamin keselamatan diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar